Cinta Tumbuh di Negeri Sakura Bersamanya

menikah

Terdengar suara dari wanita setengah baya yang duduk di hadapan. Tangannya berusaha mengeja huruf demi huruf yang tercetak dalam buku Iqra” “Belajar Cepat Membaca Al-Qur’an.” Sesekali tampak berusaha membetulkan ikatan penutup kepala yang menutupi sebagian rambut pirangnya. Kemudian

akan terhenti sejenak ketika sampai pada huruf-huruf yang dianggapnya sulit dilafalkan.

“It’s alright? Did my spelling was true?” Sesekali keluar pertanyaan untuk memastikan betul tidaknya bacaan.

Mrs. A, begitu panggilannya. Salah seorang istri konsulat Bosnia yang baru beberapa pekan
saya kenal. Meski lahir dan besar sebagai muslim. namun baru tergerak hatinya untuk belajar membaca Al Qur’an di usianya yang sudah senja.

Negara Jepang

Negara Jepang

Jepang. di negara inilah keinginan itu muncul. Di saat kehidupan terasa bebas. apa saja bisa didapat. kebosanan mulai terasa. Ada suatu ruang kosong yang tidak bisa ditimbun dengan keindahan dunia yaitu kekosongan jiwa. Dimana setiap perbuatan yang dilakukan terasa hampa dan melelahkan. Rasa gelisah. putus asa. kecewa kerapkali timbul. Sandaran berupa kejayaan. ketenaran. dan kekayaan. tidak dapat menopang pijakan saat diri goyah.

Sampai suatu saat Mrs. A menyadari bahwa lslamiah obat dari kekosongan jiwa. Di mana islam mengajarkan sikap optimis. Bahwa hidup itu memiliki makna. Allah akan memberi balasan kepada siapa pun yang berbuat baik. meskipun kebaikan itu hanya sebesar biji dzarrah. Kesadarannya menghantarkan dirinya yang khilaf untuk kembali menjadi hamba yang berserah diri.

Dua minggu ke belakang. saya mendapat kabar gembira dari salah seorang sahabat melalui telepon. ”Teteh. saya sekarang sudah berjilbab! Doakan biar mantap yah…” Ummu S. nama

pemilik suara tersebut. Kami berkenalan setahun yang lalu dalam sebuah pengajian. Usianya lebih ‘ muda beberapa tahun dari saya.

Menikah

menikah

Menikah dengan pria Jepang adalah pilihannya. Dengan harapan sang pria yang hidup berkecukupan akan membawanya ke gerbang kebahagiaan. Namun sayang, ternyata kebahagiaan yang diimpikannya hanyalah semu. Kedudukannya sebagai istri, sering diidentikkan dengan “pembantu” bagi suami. Perlakuan kasar secara fiSik ataupun melalui ucapan yang melukai hati sering terlontar dari laki-laki yang seharusnya menjadi qawwam bagi dirinya. Perintah-perintah otoriter adalah peraturan

mutlak yang tidak boleh dilanggar. Dia terkurung dalam istana impiannya.

Lemahnya iman dan tidak kuatnya dasar pijakan ruhiyah, menyebabkan dia terombangambing dalam kehampaan. J iwanya terasa kosong. Semua yang dilakukannya terasa tak berarti. Rasa percaya diri hilang. Tak ada lagi semangat untuk menjalani hidup. Hari-hari dilaluinya melalui sebuah kebahagian bernama pachinkol. Kebahagiaan semu yang justru makin menyeretnya ke dalam keterpurukan.

Sampai suatu hari, Allah membimbingnya untuk datang ke sebuah pengajian keliling di

daerahnya. Kehangatan suasana islami, persaudaraan atas cinta kasih karena Allah dalam perkumpulan tersebut begitu membekas di

hati Ummu S. Di sana dia merasa menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Tersadar bahwa Islamlah obat mujarab yang dapat mengatasi semua kemelut hatinya. Dengan mendekatkan diri kepada Allah, akan didapat suatu tenaga penuh untuk mengusir penderitaan hati. Karena

Allah telah menjanjikan, bersama kesulitan akan

ada kemudahan.

Antara Mrs. A dan Ummu S memang tidak ada kaitannya. Berbeda umur, situasi, dan kondisi. Namun sepertinya saya perlu menggarisbawahi negara tempat tinggal kedua sahabat tersebut, yaitu Jepang. Sebuah negara sekuler yang sangat tak peduli akan keberadaan agama. Kehidupan bebas, hedonisme, dan individu telah menjadi ciri negara ini.

Siapa yang menyangka, justru di negara Jepang inilah kehadiran islam-sang penyejuk. begitu berarti. Di antara hingar bingar kebebasan, kegalauan hidup. dan rasa frustasi. sebuah cinta tumbuh bersemi.

Cinta yang didambakan seseorang kala dihadang berbagai persoalan hidup. kehilangan

harapan dan tak tahu jalan penyelesaian. Cinta yang memompakan sikap optimis, mendatangkan kesejukan serta menjadi pengisi kekosongan jiwa. Didamba oleh setiap mukmin yang sadar akan hakikat dirinya tak lebih dari seorang hamba.

Cinta Ilahi,, tidak ada sesuatu yang lebih manis dan menyenangkan selain dari mencintai Allah. Yang menjadi ruh bagi iman dan amal.

Semoga, cinta tersebut mendapat sambutan dari sang kekasih. Tidak hanya bertepuk sebelah

tangan, mencintai tetapi dicintai pula oleh Sang Kekasih. Meraih mahabatullah, sebuah manzilah yang diperebutkan’orang-orang beriman.